IMPORTANT: Download link, and choose save link as / save target as to your computer
Download Free Vidio 3GP
Download 3GP Bokep
Download (Standart Quality )
Download Vidio Click Here
Some link maybe will not working. That because The files has been deleted on the hosted server. If this link not work please try another link. If you still can't downloaded any files. You can sent an email to me to report your problem

Nikmatnya Ngentot Tante Rini

  • VIDEO MESUM MAHASISWI BERJILBAB TERBARU

  • VIDEO PANAS BUNGA CITRA LESTARI TERBARU

  • Bookmark and Share
    Bagi sahabat yang menyukai cerita sex silahkan baca sepuasnya, cerita ini hanya rekaan dari pembuatnya. Jika ada kesamaan nama atau tempat itu hanyalah kebetulan saja,,, he,,,, kayak sinetron aja sob. Cerita ini dikutip dari si empunya tante: Pelukan tante. Saya hanya mengedit sedikit, habisnya mau bikin cerita sendiri kagak bisa. So,,, selamat membaca….

    Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, Tante Rini berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun.

    Akan tetapi Tante Rini yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan Tante Rini datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan Tante Rini di Bandung.

    Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari Tante Rini mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, Tante Rini curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.

    Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, Tante Rini marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik Tante Rini sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan Tante Rini katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, Tante Rini menyuruh saya menjaga rumah.

    “Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,” pikirku.

    TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba…

    “Anton.. apa yang kamu lakukan!!” teriak sebuah suara yang aku kenal.

    “Ooooohh… Tante…?!” aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka Tante Rini yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati Tante Rini yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh Tante Rini yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga Tante Rini hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.

    “Eeeehhhh… ppppffffff…!!! badan Tante Rini seketika
    mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia
    sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai
    memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas….

    “Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu…!!! Cepat lepas… nanti kulaporkan kau ke om mu…” teriak Tante Rini dengan suara garang mencoba mengancamku.

    Aku tak lagi peduli, salah Tante Rini sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai Tante Rini menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku.

    Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara Tante Rini terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh Tante Rini yang 155 cm dan mungil itu.

    Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari Tante Rini, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari Tante Rini, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya.

    Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju Tante Rini, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara Tante Rini yang padat berisi…

    “Tooonnnn… aaammmpuunn… Toonnnnn… iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!”

    Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD.

    “Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghh
    hhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!” akibat perlakuanku itu,
    kayaknya Tante Rini mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang
    mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin
    memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh Tante Rini bergetar dengan
    kuat dan……..

    “Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa
    angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt..Tooo nnn…
    oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!”
    akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat,
    serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan
    Tante Rini membasahi CD nya sekalian jemariku.

    Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan Tante Rini melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.

    Kami terdiam sejenak, sementara tubuh Tante Rini bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik Tante Rini masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.

    Akhirnya secara perlahan-lahan kepala Tante Rini menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya…

    “Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????”

    “Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk
    tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri
    sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!” sahutku mencari-cari
    alasan sekenanya.

    Sekarang kayaknya Tante Rini sudah pasrah dan sambil tanganya masih
    menggenggam penisku katanya lagi..

    “Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai
    segede ini..!!”

    “Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!” memang penis ku panjangnya 20
    cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi
    sangat bernafsu begini.

    Jemari lentik Tante Rini yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai
    memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan
    Tante Rini tak mau lepas dari situ.

    “Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar
    enaaakkk….!!!!”

    “Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!”, perlahan-lahan kedua
    tanganku menekan bahu Tante Rini, sehingga tubuh Tante Rini berjongkok dan
    sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua
    tangannya segera menggenggam penisku dan kemudian Tante Rini mulai
    menjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku
    menerima rangsang dari mulut Tante Rini. Dijilatnya seluruh batang
    kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang
    terlewat dari sapuan lidahnya.

    Dikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk.
    Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut Tante Rini. Kurasakan
    dinding tenggorokan Tante Rini menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi
    sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga Tante Rini
    mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin
    mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.
    Merasa aku akan keluar, Tante Rini semakin cepat mengocok batang kemaluanku.

    “Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo
    keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!”

    Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu
    menyembur dari ujung penisku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya
    semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar
    tetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi.
    Melihat itu, Tante Rini mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya
    hingga bersih.

    Kemudian kutarik berdiri tubuh Tante Rini dan kudorong ke tempat tidur,
    sehingga Tante Rini terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti
    rok sekalian CD nya, sehingga sekarang Tante Rini terlentang diatas
    tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam
    keadaan telanjang bulat. Tante Rini hanya menatap ku dengan pandangan
    yang sayu dan terlihat pasrah.

    Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan
    aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar
    kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.

    Kupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya,
    sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina
    Tante Rini, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan Tante Rini dan
    ku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan
    diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala
    penisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan Tante Rini.

    Terasa lobang kemaluan Tante Rini sangat sempit mencengkeram batang
    kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku,
    kutekan lagi dan tubuh Tante Rini menggeliat…

    “Oooooohhhhhh… Toooonnnn… bee.. beeeesaaarrrr
    aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan… pee laaan… Tooooonnnnn… ooooohhhhh..!!!!!” Tante Rini merintih perlahan.

    Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam… terus… terus…. ooohhhhhh… eeeenna aaak… benaaarrrr… terasa jepitan kuat dinding kemaluan Tante Rini yang menjepit rapat batang kemaluanku.

    Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..

    “Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!”

    Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, Tante Rini memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku.

    Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku
    terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus……
    terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala penisku terasa mentok,
    karena beberapa kali tubuh Tante Rini mengejang ketika aku mencoba
    menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya
    memompa keluar masuk.

    Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun
    yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan
    sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha Tante Rini
    terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam
    dasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara Tante Rini
    bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku
    dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat.

    Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan Tante Rini dengan kuat menyedot
    penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan Tante Rini menjepit penisku. Kulihat wajah Tante Rini nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.

    “Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg..
    hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee…
    keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!.”

    Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi penisku.

    Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu Tante Rini menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan Tante Rini telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar.

    Tak kuhiraukan lagi suara Tante Rini yang menjerit-jerit kesakitan, yang
    ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan
    ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot
    penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang
    berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya
    selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan
    Tante Rini akhirnya meruntuhkan pertahananku.
    “Aaaaaauuddddduuhhhh… taaannnnnn… teeeee… oooooohhhhh…..!!!!” keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan
    …croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat,
    mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan Tante Rini, kemudian
    badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi Tante Rini, sementara
    kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan Tante Rini untuk merasakan
    sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan Tante Rini tetap saja
    berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.

    “Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!” kataku dengan manja.

    “Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!”

    “Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????”

    “Iya.. siiihhh….!!!!!” kata Tante Rini malu-malu.

    Sejak saat itu sikap Tante Rini terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik Tante Rini. Aku dan Tante Rini sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap Tante Rini, apalagi Tante Rini melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.

    { 0 komentar... Views All / Send Comment! }

    Poskan Komentar

    Arsip Blog