IMPORTANT: Download link, and choose save link as / save target as to your computer
Download Free Vidio 3GP
Download 3GP Bokep
Download (Standart Quality )
Download Vidio Click Here
Some link maybe will not working. That because The files has been deleted on the hosted server. If this link not work please try another link. If you still can't downloaded any files. You can sent an email to me to report your problem

Cerita Ngentot Tante cerita selingkuh dengan tante Mira

  • VIDEO MESUM MAHASISWI BERJILBAB TERBARU

  • VIDEO PANAS BUNGA CITRA LESTARI TERBARU

  • Bookmark and Share

    Gairah Tante Mira
    Semasa kuliah gw merantau ke Jakarta, dan numpang tinggal di rumah Om. Om gw adalah seorang pengusaha, sudah menikah, dan mempunyai 2 orang anak. Istrinya (Tante Mira) masih muda umurnya sekitar 35 tahun dan memegang jabatan sebagai manager di perusahaan om gw. Karena om gw sering berpergian keluar kota, maka sering sekali dirumah hanya tinggal Tante Mira, anak-anak, pembantu, serta gw sendiri. Walau tinggal serumah kami jarang berkumpul, Tante Mira lebih senang sendirian dikamarnya. Biasanya setelah makan malam, dia akan langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri.

    Pada suatu malam ketika gw lagi asik main game di dalam kamar, tiba-tiba ada sms masuk ke HP gw. Ternyata sms dari Tante Mira.

    “Wan, boleh ke kamar saya bentar ga? laptop saya lagi ada masalah nih” is sms Tante Mira.

    Tante Mira memang termasuk orang yang GapTek, dia sering meminta bantu gw soal masalah laptop. Tapi ini pertama kalinya dia meminta gw datang ke kamarnya. Setelah tiba di depan kamarnya, gw coba mengetuk pintu.

    “siapa?” Tanya Tante Mira.

    “Awan, Tante!” jawab gw.

    “masuk aja, Wan!” Balas Tante Mira.

    Gw membuka pintu kamar, wangi aroma terapi dan alunan music yang lembut langsung menghembus keluar. Dengan lampu yang di setel remang-remang, suasana kamar terasa sungguh begitu romantic. Gw jalan menuju ke meja kerja, lalu memeriksa laptopnya.

    “Tante, ada masalah apa laptop ini?” Tanya gw.

    “file yang baru di simpan entah kenapa hilang
    ?” jawab Tante Mira yang sambil jalan keluar dari kamar mandi.

    Tubuh Tante Mira hanya di balut oleh sehelai kimono. Tubuhnya yang molek dengan dadanya yang besar serta ujung putingnya yang menonjol terlihat begitu jelas terbalut dalam kimono yang diikat ketat itu. Seketika tubuh gw jadi panas, bibir gw gemetaran, dan tidak bisa berkata apa pun. Gw hanya bisa melotot kaget.

    “ada apa Wan?” Tanya Tante Mira yang sambil berjalan menuju kearah gw.

    “ah…, eng….gak Tante” balas gw grogi.

    “katanya ada file yang hilang ya?” Tanya gw

    Gw duduk di atas kursi, dan Tante Mira berdiri di belakang gw membungkukkan badannya lalu dia berkata dekat telinga gw: “tadi ada file yang udah gw save, tapi pas mau di buka lagi filenya jadi hilang”.

    Rambutnya yang masih basah tidak henti menggesek-gesek telinga, pipi, serta bahu gw. Dan perfum melatinya yang wangi sungguh membuat gw terangsang. Lalu Tante Mira jalan menuju ke ranjang yang letaknya pas hadap ke meja kerja.

    “padahal file itu sudah gw cari dimana-mana, tapi kagak ketemu” kata Tante Mira, sambil duduk diatas ranjang dan menghadap ke arah gw.

    “Tante ingat nama filenya apa enggak?”Tanya gw.

    “gak tau, kayaknya lupa dikasih nama deh” jawab Tante Mira sambil membunkukkan badannya.

    Garis dadanya yang indah, susunya yang besar putih mulus, dan putingnya yang menonjol hampir kelihatan.

    “Tante kalau tanpa nama, gw coba cari di data-data yang baru disave” gw jelasin.

    Gw sudah mulai terangsang dan hilang konsentrasi. Walau merasa takut tapi gw sempat beberapa kali nekat nyuri pandang ke arahnya.

    “Wan, kalau gak ketemu gak apa-apa kok!” kata Tante Mira sambil membuka pahanya lebar-lebar.

    Bagian bawah komononya kebuka, di dalam tanpa memakai CD. Vagina(V)nya yang berbulu terlihat jelas di antara pahanya yang putih mulus. Dalam seketika pikiran gw sudah kacau-balau, tubuh gw hampir tak terkendali.

    “Tante, kayaknya gak ketemu deh filenya” kata gw.

    “biar saya tanya teman ada cara lain kagak” lanjut gw sambil berdiri dan ingin pergi.

    “tunggu Wan! Kan udah gw bilang file tu kagak penting” kata Tante Mira sambil segera berdiri dan menahan gw.

    “jangan Tante, gw sudah gak tahan” kata gw dalam hati.

    “Wan, kitakan bisa ngobrol bentar!” kata Tante Mira sambil mendorong gw duduk diatas kursi.

    “Wan, kitakan bisa ngobrol tentang masalah kulih, wanita, dan sex……x” lanjut Tante Mira sambil duduk di atas paha gw, dengan kakinya terbuka menghadap ke gw.

    Melihat pahanya yang putih mulus, V-nya yang terus menggesek di atas P gw, dan tangannya sambil membuka tali kimino.

    “Tante jangan! Gak bisa gini Tante!” walau gw menolak, tapi tangan gw seperti gak niat mendorongnya.

    “Wan jangan takut! Om malam ini keluar kota, gak bakalan pulang” kata Tante Mira sambil menempelkan bibirnya yang panas dengan lipstick merah ke bibir gw. Lidahnya menjulu masuk ke mulut gw, dan bergerak dengan lembut bagaikan menari. Tangannya yang lembut sambil membuka kancing kameja gw, dan mulai menjelajahi badan gw yang sudah penuh keringat.

    Penis(P) gw yang sudah mengeras dengan tegak terasa begitu sakit tertahan dalam celana pendek yang mulai mengetat. Gw pun terpaksa membuka sleting celana pendek gw. Begitu sleting celana di buka, P gw langsung nongol dan berdiri begitu tegak pas di depan V Tante Mira.

    “Wan, ternyata anu kamu begitu tegak dan keras” katanya sambil memandang P gw dengan penuh selera.

    “rasanya pasti nikmat……ah” godaan Tante Mira yang sambil memegang P gw dengan tangannya yang lembut.

    Gw tidak bisa berkata apapun. Tangan gw seolah hilang kendali dan mulai memeras susunya yang begitu besar dan empuk. Bibir Tante Mira mulai menjelajahi tubuh gw, mulai dari atas hingga bawah. Dia mulai menjilat P gw bagaikan menjilat es-krim, lalu melahap P gw kemulutnya dan mulai menghisap. Hisapannya begitu lembut, membuat gw terasa begitu nyaman bagaikan terbang. Tapi lama-kalamaan gw mulai kehilangan kesabaran dan mulai rakus. Gw memegang kepalanya, lalu memaju-mundurkan P gw secara kasar hingga sampai batasnya. Lalu gw mendengar suara batuk, dan melihat ke bawah.

    “Wan, jangan kasar-kasar dunk!” mohon Tante Mira dengan pandangan minta ampun.

    Gw berdiri dan mengangkat Tante Mira, lalu mendorongnya ke atas ranjang. Gw menaiki di atasnya, dan mulai menjelajahi badannya yang mulus, dengan mulut gw. Gw mulai menjilati susunya yang begitu besar dan empuk, lalu putingnya yang begitu menonjol dan berwarna merah gelap. Gw menyedot putingnya dengan kuat dan memencet susunya, seolah menginginkan adanya air susu keluar, walau anak bungsunya telah menginjak bangku SD kelas satu.

    Sudah puas dengan susu, mulut gw mulai menggeser ke bagian bawahnya. Menjilati perutnya, pusarnya, dan sambil memasukan jari gw ke V-nya. Walau perutnya sudah agak lembek, tapi rasanya begitu empuk dan kenyal. V-nya yang telah di aduk-aduk dengan jari gw mulai keluar lendir, sekarang saatnya giliran P gw yang lama menunggu masuk. Gw memajukan badan, lalu membuka pahanya lebar-lebar dan meletagkan keduakakinya di atas bahu gw. Kedua tangan gw mengangkat bokongnya, dibidik tepat lalu masuk. Dengan mulus P gw masuk ke dalam V Tante Mira.

    Gw mulai memaju-mundurkan P gw, mulai dari pelan sampai cepat hingga terdengar suara tepukan yang”,“ah……, Wan lagi!”, “ah……, lebih keras Wan!”, “am…..pum Wan!”, “ah……, lebih dalam Wan!”, dan berbagai macam yang aneh-aneh. Karena takut teriakan Tante Mira kedengaran sama anak-anak, jadi gw menempelkan bibir gw kemulutnya dan mulai bermain lidah. Gw terus memaju-mundurkan P gw, dan bokongnya juga terus bergoyang.

    Mungkin karena sudah pernah melahirkan 2 orang anak, V Tante Mira tarasa agak longgar, walau begitu V-nya sangat enak buat di aduk. Gw menempelkan perut di atas perutnya yang kenyal, dan P gw pun sambil mengaduk-aduk di dalam V-nya.

    Ketika lagi asik mengaduk-aduk dan hampir capai puncak, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Muka gw langsung memucat, Tante Mira juga kaget setengah mati. Diluar pintu kamar terdengar:“Mammy, boleh saya pinjam laptop kagak?”. Ternyata si sulung lagi ingin meminjam laptop. Karena dirumah ini hanya laptop Tante Mira yang bisa dipakai buat on-line, maka anak-anak sering memakainya buat cari data.

    “Ga bisa, mama lagi pakai” jawab Tante Mira dengan grogi.

    “tapi Ma, ini penting buat cari data PR sekolah!” balas si sulung.

    “Mama lagi ada kerjaan penting, ga bisa pinjam!” jawab Tante Mira tegas.

    “udah malam, cepat tidur sana!” lanjut Tante Mira.

    “tapi bentar aja Ma, kalau ga bikin tugas besok bisa dimarahin guru” mohon si sulung.

    Tante Mira berpikir bentar, lalu berbisik ke gw: “Wan, kamu umpet di kamar mandi aja, biar gw kasih laptop dulu”.

    Dengan langkah cepat gw memungut pakaian gw yang berseret di mana-mana, lalu umpet di kamar mandi. Di balik pintu kamar mandi gw dengar Tante Mira Meminta si sulung tunggu di luar, lalu dia membuka kunci pintu kamar, dan kembali ke ranjang menyelimuti tubuhnya yang bugil.

    “sayang, masuk aja!” kata Tante Mira dengan suara yang berusaha dia tenangkan.

    Si sulung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Dia melihat Mamanya sedang berbaring di atas ranjang dengan badan di tutupi selimut. Dengan heran si sulung bertanya: “bukannya Mama lagi sibuk kerja, kok malah tidur?”.

    “kerjaan Mama sudah selesai, jadi laptopnya kamu bawa aja!” kata Tante Mira buru-buru.

    “gak perlu Ma, aku kerja di sini aja! Bentar aja kok” jawab si sulung.

    “gak boleh! Mama lagi capek, pengen tidur” kata Tante Mira tidak sabar.

    “laptopnya di bawa aja!” lanjut Tante Mira.

    Dengan diam si sulung membereskan kabel-kabel, lalu membawa laptop berjalan keluar. Ketika si sulung tiba di depan pintu kamar, Tante Mira berpesan agar setelah selesai kerja PR laptopnya gak perlu di balikin, dan si sulung harus langsung tidur.

    Setalah mendengar suara pintu terkunci kembali, ketakutan gw juga mulai berangsur hilang. Muka gw yang pucat dingin mulai terasa hangat, jantung yang berdetak kencang mulai kembali normal, gemetaran tangan juga mulai hilang. Di luar kamar mandi terdengar suara panggilan Tante Mira: “Wan, dah aman. Sudah bisa keluar!”.

    Api yang tadi membara sudah dingin, P gw yang tadi berdiri tegak jugasudah tidur kembali. Semangat gw sudah hilang, pikiran gw juga sudah tenang. Dalam hati gw berpikir permainannya sudah selesai. Setelah mencuci muka, gw mulai memakai kembali pakaian. Karena gw gak kunjung keluar, akhirnya Tante Mira beranjak masuk kamar mandi. Ketika melihat gw lagi memakai celana lalu dia bertanya: “kenapa Wan, kok pakai celana?”.

    “sudah selasai, Tante” jawab gw.

    Sambil menahan kedua tangan gw Tante Mira berkata: “belum Wan! Tadi hanya tengah permainan, belum sampai puncak”

    “malam ini masih panjang, masih bisa sekali lagi” lanjut Tante Mira memohon.

    “Tante, badan dan pikiran saya sudah dingin” balas gw.

    “saya merasa bersalah, karena kamu istri om gw” lanjut gw.

    “jangan anggap aku Tante kamu, anggap aja aku ini wanita biasa yang kesepian!” Tante Mira memohon.

    “Wan kamu pria yang baik. Cuma kamu yang bisa membangkit kembali semangat aku, memberi ku sensasi yang baru, jadi aku mohon Wan!” lanjut Tante Mira.

    Sungguh tidak bisa di percaya, Tante Mira yang biasanya bersifat dewasa dan dingin sekarang bisa jadi begitu kegirangan. Dalam hati gw berpikir apakah Tante Mira lagi ada masalah dengan om? Apa om sudah tidak bisa lagi memenuhi keperluan sensasi Tante Mira?. Om gw merupakan pria yang baik dan juga jaga rumah. Walau sering keluar kota, tapi tiap ada waktu dia selalu ajak keluarga pergi jalan-jalan. Mereka tampak sebagai suami-istri yang harmonis, juga selalu tampil mesra di depan umum. Jadi apa masalahnya?

    Ketika pikiran gw lagi di penuhi pertanyaan, Tante Mira sedang menurunkan celana yang belum sempat gw sleting tadi beserta CD. Lalu gw didorongnya ke bathtub.

    “Wan, biar aku memanaskan tubuh mu!” kata Tante Mira.

    Pikiran gw masih plin-plan, badan tidak tahu harus gimana. Jadi gw membiarkannya mengambil kendali. Tante Mira menyalakan kran air panas, Air yang panas mengalir deras kedalam bathtub. Dia memegang kaki gw, dan berlutut didepan P gw. Dia membungkukkan badannya dan mulai menghisap P gw.

    Hanya waktu sekejap air dalam bathtub mulai meninggi, tubuh Tante Mira sudah basah kunyup. Melihat tubuh mulusnya yang basah kunyup, terutama dada montoknya yang basah mengkilap, membuat gw terangsang dan lupa diri lagi. Tangan mulai meraba susu besarnya yang menggantung. Tante Mira terus menghisap P gw, sambil memandang dengan pandangan merayu. Gw mengambil shower cream yang letak disamping bathtub, lalu gw menuangkannya ke punggung Tante Mira. Gw mulai mengusapkan shower cream keseluruh tubuhnya. Mulai dari punggung, susunya yang montok, bokongnya yang putih mulus, serta ke V-nya yang berbulu hingga berbusa. Gw memintanya menghadapkan bokongnya ke muka gw. Karena bathtub itu terlalu sempit buat 2 orang berbaring, maka dia menaiki di atas gw.

    Gw mulai bermain di sekitar V-nya. V Tante Mira masih terawet dengan baik, kulit sekitar masih putih, mulus dan bersih. Selaput bagian dalam masih berwarna merah muda. Selain bulu sekitar V-nya yang gw anggap sedikit mengganggu.

    “Tante, bulunya boleh aku cukur kagak?” Tanya gw gugup.

    Tante Mira memandang kearah gw sambil berpikir bentar, lalu jawab: “Terserah”.

    Gw coba mengulurkan tangan, dan mengambil pencukur listrik yang letak di meja washtafel dekat bathtub. Gw menyalakan pencukur listrik: “Zrrrr……zrrrrrr”, bulunya mulai berjatuhan. Dalam hati gw berpikir apa reaksi Om ketika melihat V Tante Mira yang sudah di gundulin? Dalam sekejap V Tante Mira sudah putih mulus bebas bulu. Gw mulai menjilati V-nya, lalu coba menghisap. Walau rasanya agak tawar karena kelamaan rendam di air, tapi tetap enak buat dijilat. Gw membuka V-nya, didalam terlihat jelas lubang yang kebuka lebar. Gw coba mentusuk-tusuk lubang V-nya, dan menghisap.

    Dibawah sana Tante Mira terus bermain dengan P gw, sambil menikmati rasa sensasi yang gw berikan. Setalah puas dengan hidangan di V-nya, gw berpindah ke lubang antara bokongnya. Lubang yang hitam terlihat jelas diantara bokongnya yang putih. Gw mulai menggosok dan menekan lubang bokongnya. Di bawah sana Tante Mira mulai menjerit kegirangan.

    “ahh……., ampun Wan. Jangan ahh…..!” jeritan Tante Mira sambil pura-pura menahan gw dengan tangannya.

    “jangan takut Tante, akan ku lakukan dengan lembut” gw menenangkan Tante Mira, sambil menyingkirkan tangannya.

    Otot lubang bokongnya benar-benar tertutup dengan erat. Gw mengusapkan shower cream di sekitar lubang bokongnya, lalu coba menekan lubang itu dengan lembut dan pelan-pelan. Otot lubang bokongnya mulai melemah, ujung jari tengah gw sudah mulai biasa masuk. Gw coba menekan lebih keras, sampai seluruh jari tengah bisa masuk kedalam lubangnya. Gw menusuk-tusuk jari tengah ke dalam lubangnya, lalu coba mengaduk dan mengorek di dalam. Tante Mira hanya bisa menjerit kegirangan seperti geli tapi nikmat.

    Setelah selesai bersih-bersih di lubang, gw menyuruhnya membalikan badannya. Kami mulai bermain lidah, lalu gw coba memasukan P ke lubang V-nya. Setelah beberapa kali mencoba, tapi gagal terus, karena licin dan tidak kelihatan terendam air sabun. Akhirnya tangan Tante Mira datang membantu. Tangannya yang gak kesabaran berusaha menangkap P gw, tapi secara gak sengaja kuku tangannya yang panjang mencakar paha gw.

    “argh…..” jeritan gw yang tertahan.

    “maaf Wan, kagak sengaja” minta maafnya sambil senyum geli.

    Akhirnya tangan dia berhasil menagkap P gw, setelah di bidiknya langsung di masukin ke dalam lubang V-nya. Tante Mira mulai menggoyang di atas gw, susunya yang besar juga ikut bergoyang. Tapi lama-kelamaan kami mulai terasa tidak nyaman. Bathtub yang sempit di penuhi air sabun membuat kami terasa licin dan susah bergerak. Akhirnya kami memutuskan bermain diluar bathtub.

    Gw memintanya membungkukkan badan, tangannya menahan di pinggir bathtub, lalu membuka kakinya lebar-lebar. Gw berdiri di belakangnya, memasukan P gw kedalam V-nya dan kami mulai melakukan gaya 69. Karena lantai yang basah licin, maka kedua tangannya berpegang erat pada pinggir bathtub, dan kedua kakinya yang berbuka berusaha bertahan diri. Gw terpaksa memegang bokongnya erat-erat, dan melakukannya dengan keras. Bokongnya yang tadi putih mulus jadi memerah, karena bertepuk keras dengan paha gw yang tadi di cakarnya. Suara tepukan kami terdengar begitu keras, dan susunya yang bergantungan juga bergoyang dengan begitu hebat. Tante Mira tidak berhanti menjerit karena rasa nikmatnya yang luar biasa.

    Karena gak kunjung puas, maka gw memutuskan mengganti lubang. Gw mencabut P gw dari lubang V-nya, menggeserkannya ke lubang bokongnya, lalu coba memasukan P gw. Seketika Tante Mira berhenti menjerit, dan dia berusaha menghentikan gw.

    “stop.. Wan, tolong…jangan yang ini!” mohonnya serius sambil berusaha menutup lubang bokongnya dengan tangan.

    “jangan takut Tante, akan ku lakukan dengan lembut” jawab gw sambil berusaha menyingkirkan tangannya.

    “jangan Wan! P kamu gak bakalan bisa masuk” balas tegas Tante Mira sambil tetap melindungi lubang bokongnya.

    Tangan kanan gw menahan tangan Tante Mira sambil mengangkat bokongnya. Tangan gw yang lain sambil mengusapan shower cream pada P gw, juga pada lubang bokongnya. Lalu gw memegang P gw dan siap menerobos. Gw mencoba berkali-kali, dan akhirnya tembus juga.

    Tante Mira hanya bisa menjerit kesakitan, dengan sebelah tangan ditahan sama gw, dan tangan yang lain berpegangan erat di pinggir bathtub. Berbeda dengan lubang V-nya, lubang bokong Tante Mira terasa begitu sempit. P gw hampir tak bisa bergerak di dalam, tapi rasanya tetap begitu nikmat. P gw terasa begitu hangat terjepit di antara bokongnya yang putih dan mulus. Bokongnya yang begitu sempurna dan tanpa bekas noda. Melihat Tante Mira yang begitu ketakutan membuat gw harus melakukannya dengan lembut. Mungkin ini pertama kalinya bagian lubang bokongnya diterobos, maka dia terasa begitu geli dan sakit.

    Gw memaju-mundurkan P gw dengan pelan-pelan, dan menjaga agar tidak terlepas dari lubangnya. Setelah beberapa saat kemudian tubuhnya mulai terasa tenang, rasa sakit yang tadi menyelimutinya berubah menjadi rasa nikmat. Tante Mira coba menggerakan tubuhnya dan menikmatinya. Otot lubang yang tadinya begitu erat mulai jadi melemah, dan gerakan maju-mundur P gw terasa lebih mulus.

    Perasaan gw telah mencapai puncak, dan terasa cairan putih hampir keluar. Gw segera mencopot P gw dari lubang bokong Tante Mira, lalu berjalan ke depan mukanya, dan memasukan P gw kedalam mulutnya. P gw terus menyemprot di dalam mulutnya hingga penuh dan tumpah keluar. Dengan matanya yang terbuka lebar, Tante Mira terus memandang gw dengan kaget.

    Setelah habis menyemprot, tubuh gw terasa begitu lemas dan gw langsung duduk di pinggir bathtub. Tante Mira terus berusaha menelan cairan putih (sperma) yang penuh di mulutnya. Mungkin ini juga pertama kalinya menelan cairan putih, Tante Mira menelannya dengan agak susah payah.

    “Tante, kalau gak bisa di telan buang aja gak apa-apa!” saran gw.

    Tante Mira menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dengan sekali telan, seluruh cairan putih di makannya. Tante Mira menduduk lemas di atas lantai, sambil melap sisa cairan putih di mukanya. Dengan matanya yang kecapaian, Tante Mira memandang kearah gw, lalu bertanya: “Wan, kenapa gak disemprot dibawah aja?”.

    Gw sempat terpaku dengan pertanyaannya, lalu gw jawab: “Tante, ada aja!” sambil senyum geli.

    Kami berdua duduk lemas di kamar mandi. Tubuh yang dingin dan capek buat kami mulai rasa ngantuk. Lalu Tante Mira mengajak gw untuk mandi bareng. Setelah mandi gw balik ke kamar gw, dan Tante Mira pun tertidur mulas di kamarnya. Permainan malam itu akhirnya selesai.

    Keesokan hari, Tante Mira kembali ke sifatnya semula, sifat yang dingin dan dewasa. Tidak ada perbedaan dalam kehidupan kami sehari-hari. Setiap kali gw melihat Om dan anak-anak mereka, membuat gw merasa bersalah. Akhirnya gw pun memutuskan pindah ke kost. Tapi untuk hari-hari selanjutnya Tante Mira masih sering meminta bantuan gw soal masalah laptop, dan gw pun tetap dengan senang hati membantunya

    { 0 komentar... Views All / Send Comment! }

    Poskan Komentar

    Arsip Blog